Pernah
mendengar tentang sekolah yang siswa-siswinya bertempat tinggal di asrama?
Jawabannya pasti pernah. Ya, Sebuah SMA Unggulan berasrama di Samarinda merupakan salah satunya. Dilihat dari
prestasinya, SMA Negeri tersebut bukanlah sekolah yang ‘sembarangan’. SMA Negeri tersebut merupakan sekolah
unggulan yang dikelola oleh provinsi dan siswa-siswinya pun bersekolah
menggunakan uang rakyat alias diberi beasiswa full.
Tetapi,
pernahkah kalian berpikir atau menebak bagaimana cara hidup siswa-siswi didalam
asrama yang dikelola langsung oleh yayasan? Saya kira pernah.
SMA yang dibiayai oleh pemerintah ini memiliki siswa-siswi cerdas yang dididik dengan sistem hidup yang
keras pula. Sistem hidup yang beda dari siswa-siswi pada umumnya. Mulai dari
bangun tidur di pagi hari, hingga tidur di malam hari, seluruh kegiatan sudah
diatur dan tidak dapat dilanggar. Bagi yang melanggar? Dikenai sanksi dari
asrama. Mulai dari melaksanakan shalat, makan pagi, berangkat sekolah, makan
siang, sampai sebelum tidur pun semuanya diawali dengan apel.
Sistem
seperti ini sudah sangat bagus untuk membiasakan sikap disiplin pada siswa.
Tetapi apakah kegiatan diasrama sudah efektif? Jawabannya tidak. Kegiatan
asrama yang mengharuskan siswa-siswinya mengikuti aturan tersebut, memicu
berkurangnya waktu untuk belajar. Kegiatan asrama yang padat membuat
konsentrasi belajar menjadi kurang.
Ya,
memang aturan asrama sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tetapi,
setidaknya asrama memberi kelonggaran kepada siswa-siswinya dan memberi waktu
belajar yang cukup. Siswa-siswi SMA tersebut merupakan siswa-siswi pilihan
se-Kaltim dan bersekolah menggunakan uang rakyat. Tetapi jika hal seperti ini
terjadi terus menerus, kapan kami dapat mendapatkan waktu luang untuk belajar?
Ditambah lagi tuntutan kurikulum baru yang mengharuskan siswa-siswinya bergerak
aktif.
Untuk
masalah seperti ini, siapa yang harus bertanggung jawab? Seharusnya asrama
hanya menyediakan fasilitas, sedangkan pengatur kegiatan tetaplah hak sekolah.
Tetapi, mengapa ‘kesannya’ asrama adalah pemegang peran penting dan sekolah
harus mengalah kepada asrama? Sebagai contoh, senioritas di sekolah memang
sudah dihapuskan, tetapi apakah sekolah mampu menghapus senioritas di asrama
yang sudah begitu kental? Saya rasa tidak.
Itulah
contoh bukti bahwa sekolah kini terkesan hampir ‘kalah’ dengan ‘duel’ melawan
asrama. Aturan-aturan di asrama yang mengharuskan siswa-siswi melakukan ini dan
itu, membuat sekolah ini menjadi ‘sekolah robot’. Yaitu sekolah yang berisikan
aturan-aturan ketat yang harus ditaati dan dihormati. Mulai dari merendahkan
diri didepan senior hingga segilintir siswa merasa ketakutan sendiri melihat
seniornya. Lucu sekali bukan?
Senior
bukanlah untuk ditakuti, tetapi untuk disegani. Peraturan asrama-lah yang telah
membuat presepsi seperti itu berganti.
Sampai
kapan sekolah mampu memenangkan ‘duel’ ini dan memulai semuanya dari awal? Saya
rasa butuh waktu yang tidak sebentar. Saya hanya berharap sekolah mampu
memenangkan ‘duel’ dan dapat segera memusnahkan title ‘sekolah robot’ .




0 komentar:
Posting Komentar