Cute Rocking Baby Monkey
RSS

Sekolah Robot

Pernah mendengar tentang sekolah yang siswa-siswinya bertempat tinggal di asrama? Jawabannya pasti pernah. Ya, Sebuah SMA Unggulan berasrama di Samarinda merupakan salah satunya. Dilihat dari prestasinya, SMA Negeri tersebut bukanlah sekolah yang ‘sembarangan’. SMA Negeri tersebut merupakan sekolah unggulan yang dikelola oleh provinsi dan siswa-siswinya pun bersekolah menggunakan uang rakyat alias diberi beasiswa full.
Tetapi, pernahkah kalian berpikir atau menebak bagaimana cara hidup siswa-siswi didalam asrama yang dikelola langsung oleh yayasan? Saya kira pernah.
SMA yang dibiayai oleh pemerintah ini memiliki siswa-siswi cerdas yang dididik dengan sistem hidup yang keras pula. Sistem hidup yang beda dari siswa-siswi pada umumnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari, hingga tidur di malam hari, seluruh kegiatan sudah diatur dan tidak dapat dilanggar. Bagi yang melanggar? Dikenai sanksi dari asrama. Mulai dari melaksanakan shalat, makan pagi, berangkat sekolah, makan siang, sampai sebelum tidur pun semuanya diawali dengan apel.
Sistem seperti ini sudah sangat bagus untuk membiasakan sikap disiplin pada siswa. Tetapi apakah kegiatan diasrama sudah efektif? Jawabannya tidak. Kegiatan asrama yang mengharuskan siswa-siswinya mengikuti aturan tersebut, memicu berkurangnya waktu untuk belajar. Kegiatan asrama yang padat membuat konsentrasi belajar menjadi kurang.
Ya, memang aturan asrama sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tetapi, setidaknya asrama memberi kelonggaran kepada siswa-siswinya dan memberi waktu belajar yang cukup. Siswa-siswi SMA tersebut merupakan siswa-siswi pilihan se-Kaltim dan bersekolah menggunakan uang rakyat. Tetapi jika hal seperti ini terjadi terus menerus, kapan kami dapat mendapatkan waktu luang untuk belajar? Ditambah lagi tuntutan kurikulum baru yang mengharuskan siswa-siswinya bergerak aktif.
Untuk masalah seperti ini, siapa yang harus bertanggung jawab? Seharusnya asrama hanya menyediakan fasilitas, sedangkan pengatur kegiatan tetaplah hak sekolah. Tetapi, mengapa ‘kesannya’ asrama adalah pemegang peran penting dan sekolah harus mengalah kepada asrama? Sebagai contoh, senioritas di sekolah memang sudah dihapuskan, tetapi apakah sekolah mampu menghapus senioritas di asrama yang sudah begitu kental? Saya rasa tidak.
Itulah contoh bukti bahwa sekolah kini terkesan hampir ‘kalah’ dengan ‘duel’ melawan asrama. Aturan-aturan di asrama yang mengharuskan siswa-siswi melakukan ini dan itu, membuat sekolah ini menjadi ‘sekolah robot’. Yaitu sekolah yang berisikan aturan-aturan ketat yang harus ditaati dan dihormati. Mulai dari merendahkan diri didepan senior hingga segilintir siswa merasa ketakutan sendiri melihat seniornya. Lucu sekali bukan?
Senior bukanlah untuk ditakuti, tetapi untuk disegani. Peraturan asrama-lah yang telah membuat presepsi seperti itu berganti.

Sampai kapan sekolah mampu memenangkan ‘duel’ ini dan memulai semuanya dari awal? Saya rasa butuh waktu yang tidak sebentar. Saya hanya berharap sekolah mampu memenangkan ‘duel’ dan dapat segera memusnahkan title ‘sekolah robot’ .

0 komentar:

Posting Komentar